Sosialisasi Represif

Pengertian Sosialisasi Represif

Sosialisasi represif sendiri bisa dikatakan sebagai proses sosialisasi yang lebih menggunakan unsur kekerasan dalam proses sosialisasi. Sosialisasi sendiri merupakan proses pemberian infromasi yang diberikan antar individu atau ekpada golongan tertentu. Untuk sosialisasi yang satu ini, proses pemberian informasi dilakukan dengan memberikan hukuman dengan menggunakan kekerasan atau hal lain yang bersifat fisik. Prors pemberian hukuman ini sendiri sejatinya dilakukan ketika adanya kesalahan dalam proses sosialisasi atau pembelajaran. Biasanya sosialisasi jenis ini diterapkan di keluarga atau pada tahap sosialisasi primer. Orang tua cenderung akan memberikan hukuman kekerasa apabila sang anak tidak bisa berbuat baik atau sesuai keinginan orang tua.

Ada beberapa hal yang bisa menunjukan tentang sosialisasi represif. Yang pertama sendiri yakni sesuai dengan pengertiannya, sosialisasi yang satu ini memberikan hukuman kekerasan. Biasanya hukuman ini akan diberikan jika terjadi kesalahan. Imbalan juga akan diberikan ketika melakukan proses dengan benar. Selain itu pada prosesnya perintah akan selalu menjadi cara dalam proses komunikasi. Sosialisasi ini sendiri sering terjadi di dalam keluarga dan berpusat pada kuasa orang tua. Biasanya orang tua akan lebih berperan dalam proses sosialisasi ini. dan tentunya proses komunikasi non verbal lebih sering digunakan pada proses sosialisasi yang satu ini.

Pada kenyataannya proses sosialisasi represif ini sendiri sebenarnya bsia dikatakan sebagai proses sosialisasi yang kurang baik untuk dilakukan. Anak yang menjadi objek atau individu yang mengalami proses sosialisasi ini akan mengalami trauma yang mendalam jika mendapatkan hukuman dalam proses sosialisasi ini. tentu saja ini menjadi cara yang kurang baik untuk dipilih sebagai proses individu. Oleh karena itu sekarang ini dalam proses sosialisasi primer atau sosialisasi dalam keluarga, sekarang ini lebih diutamakn untuk menggunakan metode sosialisasi partisipatif. Dengan mengunakan metode yang satu ini maka anak akan lebih aktif dan juga lebih peka terhadap lingkungan mereka. Selain itu sang anak juga bisa menjadi lebih siap untuk menghadapi proses sosialisasi sekunder atau proses sosialisasi di masyarakat secara luas.